Cerita Sehari-Hari
Pagi yang Sejuk Dihari Kelahiranku

Pagi yang Sejuk Dihari Kelahiranku

Oleh | Kamis, 23 Maret 2017 06:40 WIB | 491 Views 2017-03-23 06:40:00

Jarum panjang menunjuk angka tujuh sedangkan jarum pendeknya mengarah ke angka enam lebih sedikit, hari itu hari kamis, hari ke 23 di bulan maret tahun 2017. Alesha untuk pertama kalinya merasakan sejuknya udara dunia. Diruangan kecil klinik Nur Khadijah Cihanjuang untuk pertama kalinya juga Alesha melihat ayah dan bunda, ditemani Bidang Ingeu yang sejak pukul sepuluh malam menunggu Alesha lahir.

Sehari Sebelumnya
Hari Rabu memang jadwalnya bunda untuk periksa kandungannya, dimana alesha ada didalamnya. Yah, sehari sebelumnya. Bunda dan ayah datang ke Klinik, saat itu bunda dan ayah memutuskan untuk terapi, katanya biar Bunda pas ngelahirin Alesha gak sakit, katanya begitu. Memang, menurut bidan, Alesha sudah aman lahir minggu itu. Bunda saat itu di tusuk pakai jarum yang kecil sekali dan dialiri listrik untuk beberapa waktu, sepertinya bunda memang lebih rileks saat di terapi.

Setelah selesai bunda dan ayah tidak langsung pulang, sempat makan dirumah makan sunda, hari itu ayah dan bunda terlihat sangat bahagia menanti kelahiranku, Alesha. Bayi yang ditunggu mereka selama lebih dari 2 tahun. Oh iya, sebelum Alesha, sebenarnya bunda sempat hamil dan mengandung Kaka Alesha, hanya saja baru usia 10 minggu didalam kandungan, Kaka Alesha harus pergi meninggalkan Bunda dan Ayah, Bunda dan ayah pasti sangat sedih sekali saat itu, oleh karena itu Alesha ingin membuat Ayah dan Bunda tidak sedih lagi.

Rabu Malam Kamis
Waktu Isya telah lewat, ayah minta izin Bunda untuk Badminton beberapa saat, sementara bunda berbaring berharap bisa tidur. Hingga ayah pulang, ternyata bunda belum juga tidur, sempat bercerita kesana kemari bareng Ayah hingga ayah memutuskan untuk mandi terlebih dahulu karena keringat habis badminton sudah mulai mengering. Namun, betapa kagetnya Bunda, air mengalir dari rahim bunda, karena bunda saat hamil sering baca dan sering ikut live hipnobirthing, Bunda tampak tidak panik, bunda berusaha tenang dan tetap berbaring, sementara ayah mandi dan memanggil Om Puja untuk bawa mobil segera.

Menanjaklah Bunda, Ayah dan Om Puja ke Kliknik yang tempatnya di Cihanjuang Atas, ke arah utara dari rumah Alesha, disana sudah ada Bidan Ingeu yang menyambut. Diperiksalah Bunda, detak jantung Alesha juga dan ini itunya. Ya, ternyata benar dugaan bunda, sudah pecah ketuban. Setelah itu lagi-lagi bunda di terapi setrum atau apalah itu Alesha tidak tau, bermain genjot-genjotan pakai bola karet yang gede banget. 

Kamis Pagi
Hingga pukul lima pagi, selepas Ayah sholat Subuh. Bunda tidak menunjukan pembukaan yang signifikan, katanya begitu kata bidan. Bunda terus merasakan alesha ingin keluar tapi belum terasa mules sekali, bunda terus menarik nafas terus dan terus. Waktu terus berjalan, bu Bidan sempat telephone dokter untuk jaga-jaga bila Alesha belum juga lahir, mengingat air ketuban semakin menipis. Tetapi, Alhamdulillah. Bunda merasakan mules yang sangat, ayah terlihat cemas sesekali melihat rambut Alesha yang sudah mulai tampak. Dan, Eaaaaaaaaaaa Alesha lahir ke dunia dan segeralah dirapatkan ke badan bunda untuk mendapatkan kehangatan. Namun, kesakitan bunda sepertinya belum berakhir, hingga 30 menit setelah aku lahir, plasenta yang selalu menemaniku belum juga keluar, setelah berembug dengan bidan akhirnya plasenta diambil secara manual oleh Bidan, dan luar biasa perjuangan Bunda, bunda yang sudah hampir kehabisan tenaga begitu merasakan kesakitan.

Pagi Yang Cerah
Selama menunggu kelahiran Alesha, Cihanjuang memang diguyur hujan beberapa kali, dan pagi itu tampak cerah, secerah senyum Bunda dan ayah. Tidak lama berselang Nenek dan Uwa Ai datang dari Bandung setelah semalaman tidak bisa dihubungi. Terima kasih Bunda atas segala pengorbanan yang sudah bunda kasih untuk Alesha, terima kasih ayah yang sudah selalu dukung dan bantu bunda. Alesha sayang kalian.

Alesha Zahra




Berikan Komentar Via Facebook

Cerita Sehari-Hari Lainnya